BAHASA PEMROGAMAN KOMPUTER

Sejarah Bahasa Pemrograman Komputer Sejak pertama komputer difference engine diciptakan oleh Charles Babbage pada tahun 1822, komputer membutuhkan sejumlah instruksi untuk melakukan suatu tugas tertentu. Instruksi-instruksi ini dikenal sebagai bahasa pemrograman. Bahasa komputer mulanya terdiri dari sejumlah langkah pengkabelan untuk membuat suatu program; hal ini dapat dipahami sebagai suatu rangkaian pengetikan kedalam komputer dan kemudian dijalankan. Pada awalnya, difference engine-nya Charles Babbage hanya dibuat untuk menjalankan tugas dengan menggunakan perpindahan gigi roda untuk menjalankan fungsi kalkukasi. Jadi, bentuk awal dari bahasa komputer adalah berupa gerakan secara mekanik, selanjutnya gerakan mekanik tersebut digantikan dengan sinyal listrik ketika pemerintah AS mengembangkan ENIAC pada tahun 1942, tetapi masih banyak mengadopsi prinsip-prinsip dasar dari Babbage’s engine yang mana diprogram dengan mengeset switch dan perkabelan pada seluruh sistem pada setiap “program” maupun kalkulasi. Tentu saja ini merupakan pekerjaan yang membosankan. Pada 1945, John Von Neumann yang bekerja pada Institute for Advanced Study mengemukakan dua konsep yang secara langsung mempengaruhi masa depan dari bahasa pemrograman komputer. Yang pertama dikenal sebagai “shared-program technique” (www.softlord.com). Pada teknik ini dinyatakan bahwa hardware komputer haruslah sederhana dan tidak perlu dilakukan pengkabelan dengan menggunakan tangan untuk setiap program. Sebagai gantinya, instruksi-instruksi yang lebih kompleks harus digunakan untuk mengendalikan perangkat keras yang lebih sederhana, hal ini memungkinkan komputer diprogram ulang dengan cepat. Konsep yang kedua yang juga sangat penting untuk pengembangan bahasa pemrograman. Von Neumann menyebutnya sebagai “conditional control transfer” (www.softlord.com). Ide ini berkembang menjadi bentuk subrutin, atau blok kode yang kecil yang dapat panggil berdasarkan aturan tertentu, dari pada suatu himpunan tunggal urutan kronologis yang harus dijalankan oleh komputer. Bagian kedua dari ide tersebut menyatakan bahwa kode komputer harus dapat bercabang berdasarkan pernyataan logika seperti IF (ekspresi) THEN, dan perulangan seperti FOR statement. “Conditional control transfer” mengembangkan ide adanya “libraries,” yang mana merupakan blok kode yang dapat digunakan berulang kali. Pada 1949, setelah beberapa tahun Von Neumann bekerja, bahasa Short Code dilahirkan (www.byte.com), yang merupakan bahasa komputer yang pertama untuk peralatan elektronik yang membutuhkan programmer untuk mengubah perintah kedalam 0 dan 1 dengan tangan. Pada 1957, bahasa khusus yang pertama muncul dalam bentuk FORTRAN yang merupakan singkatan dari sistem FORmula TRANslating. Bahasa ini dirancang pada IBM untuk perhitungan scientific. Komponen-komponennya sangat sederhana, dan menyediakan bagi programmer akses tingkat rendah kedalam komputer. Sampai saat ini, bahasa ini terbatas pada hanya terdiri dari perintah IF, DO, dan GOTO, tetapi pada waktu itu, perintah-perintah ini merupakan lompatan besar kearah depan. Type data dasar yang digunakan sampai sekarang ini dimulai dari FORTRAN, hal ini meliputi variabel logika (TRUE atau FALSE), dan bilangan integer, real, serta double-precision. FORTRAN sangat baik dalam menangani angka-angka, tetapi tidak terlalu baik untuk menangani proses input dan output, yang mana merupakan hal yang penting pada komputasi bisnis. Komputasi bisnis mulai tinggal landas pada 1959, dengan dikembangkannya COBOL, yang dirancang dari awal sebagai bahasa untuk para pebisnis. Type data yang ada hanya berupa number dan text string. Hal tersebut juga memungkinkan pengelompokan menjadi array dan record, sehingga data di telusuri dan diorganisasikan dengan lebih baik. Sesuatu hal yang menarik untuk dicatat bahwa suatu program COBOL dibuat menyerupai suatu essay, dengan empat atau lima bagian utama yang membentuk keseluruhan yang tertata dengan baik. Perintah-perintah COBOL sangat menyerupai tata bahasa English, sehingga membuatnya agak mudah dipelajari. Semua ciri-ciri ini dikembangkan agar mudah dipelajari dan mudah diterapkan pada dunia bisnis. Pada 1958, John McCarthy di MIT membuat bahasa LISt Processing (atau LISP), yang dirancang untuk riset Artificial Intelligence (AI). Karena dirancang untuk fungsi spesialisasi yang tinggi, maka tata cara penulisannya jaring kelihatan sebelum ataupun sesudahnya. Sesuatu perbedaan yang paling nyata dari bahasa ini dengan bahasa lain adalah dasar dan type satu-satunya adalah list, yang ditandai dengan suatu urutan item yang dicakup dengan tanda kurung. Program LISP sendirinya dibuat sebagai suatu himpunan dari list, sehingga LISP memiliki kemampuan yang khusus untuk memodifikasi dirinya, dan juga dapat berkembang sendiri. Tata cara penulisan LISP dikenal sebagai “Cambridge Polish,” sebagaimana dia sangat berbeda dari logika Boolean (Wexelblat, 177) : x V y – Cambridge Polish, what was used to describe the LISP program OR(x,y) – parenthesized prefix notation, what was used in the LISP program x OR y – standard Boolean logic LISP masih digunakan sampai sekarang karena spesialiasi yang tinggi dari sifat abstraknya. Bahasa Algol dibuat oleh suatu komite untuk pemakaian scientific pada tahun 1958. Kontribusi utamanya adalah merupakan akar dari tiga bahasa selanjutnya yaitu Pascal, C, C++, dan Java. Dia juga merupakan bahasa pertama dengan suatu tata bahasa formal, yang dikenal sebagai Backus-Naar Form atau BNF (McGraw-Hill Encyclopedia of Science and Technology, 454). Pada Algol telah diterapkan konsep-konsep baru, seperti rekursif pada function, bahasa berikutnya Algol 68, menjadi bahasa yang membosankan dan sulit digunakan (www.byte.com). Hal ini mengarah kepada adopsi terhadap bahasa yang lebih kecil dan kompak seperti Pascal. Pascal dimulai pada tahun 1968 oleh Niklaus Wirth. Tujuan pengembangannya adalah untuk kebutuhan pengajaran. Pada awalnya bahasa ini dikembangkan bukan dengan harapan adopsi pemakaian secara luas. Prinsipnya mereka mengembangkannya untuk alat pengajaran pemrograman yang baik seperti kemampuan debug dan perbaikan sistem dan dukungan kepada mikroprosesor komputer yang digunakan pada institusi pendidikan. Pascal dirancang dengan pendekatan yang sangat teratur (terstruktur), dia mengkombinasikan kemampuan yang terbaik dari bahasa-bahasa saat itu, COBOL, FORTRAN, dan ALGOL. Dalam pengerjaannya banyak perintah-perintah yang tidak teratur dan aneh dihilangkan, sehingga sangat menarik bagi pemakai (Bergin, 100-101). Kombinasi dari kemampuan input/output dan kemampuan matematika yang solid, membuatnya menjadi bahasa yang sukses besar. Pascal juga mengembangkan tipe data “pointer”, suatu fasilitas yang sangat bermanfaat pada bahasa yang mengimplementasikannya. Dia juga menambahkan perintah CASE, yang mana memperbolehkan perintah bercabang seperti suatu pohon pada suatu aturan: CASE expression OF possible-expression-value-1: statements to execute… possible-expression-value-2: statements to execute… END Pascal juga mengembangkan variabel dinamis, dimana variabel dapat dibuat ketika suatu program sedang berjalan, melalui perintah NEW dan DISPOSE. Tetapi Pascal tidak mengimplementasikan suatu array dinamis, atau kelompok dari variabel-variabel, yang mana sangat dibutuhkan, dan merupakan salah satu penyebab kekalahannya (Bergin, 101-102). Wirth kemudian membuat lanjutan dari Pascal, Modula-2, tetapi pada saat itu muncul C yang dengan cepat menjadi mengeser posisi Pascal. C dikembangkan pada tahun 1972 oleh Dennis Richie ketika sedang bekerja pada Bell Labs di New Jersey. Transisi pemakaian dari bahasa umum yang pertama ke bahasa umum sampai hari ini yaitu transisi antara Pascal dan C, C merupakan perkembangan dari B dan BCPL, tetapi agak menyerupai Pascal. Semua fasilitas di Pascal, termasuk perintah CASE tersedia di C. C menggunakan pointer secara luas dan dibangun untuk kecepatan dengan kelemahannya yaitu menjadi sulit untuk dibaca. Tetapi karena dia menghilangkan semua kelemahan yang terdapat di Pascal, sehingga dengan cepat mengambil alih posisi Pascal. Ritchie mengembangan C untuk sistem Unix yang baru pada saat yang bersamaan. Oleh karena ini, C dan Unix saling berkaitan. Unix memberikan C beberapa fasilitas besar seperti variabel dinamis, multitasking, penanganan interrupt, forking, dan strong low-level,input-output. Oleh karena itu, C sangat sering digunakan untuk pemrograman sistem operasi seperti Unix, Windows, MacOS, dan Linux. Pada akhir tahun 1970 dan awal 1980, suatu metode pemrograman yang baru telah dikembangkan. Ha tersebut dikenal sebagai Object Oriented Programming, atau OOP. Object merupakan suatu potongan dari data yang dapat dipaket dan dimanipulasi oleh programmer. Bjarne Stroustroup menyukai metode ini dan mengembangkan lanjutan dari C yang dikenal sebagai “C With Classes.” Kemampuan lanjutan ini dikembangkan menjadi bahasa C++ yang diluncurkan pada tahun 1983. C++ dirancang untuk mengorganisasikan kemampuan dasar dari C dengan OOP, dengan tetap mempertahankan kecepatan dari C dan dapat dijalankan pada komputer yang tipe berlainan. C++ sering kali digunakan dalam simulasi, seperti game. C++ menyediakan cara yang baik untuk memanipulasi ratusan instance dari manusia didalan elevator, atau pasukan yang diisi dengan tipe prajurit yang berbeda. Bahasa ini menjadi pilihan pada mata kuliah AP Computer Science sampai hari ini. Pada awal 1990′s, interaktif TV adalah teknologi masa depan. Sun Microsystems memutuskan bahwa interaktif TV membutuhkan suatu hal yang khusus, yaitu bahasa portable (bahasa yang dapat berjalan pada banyak jenis mesin yang berbeda). Bahasa ini dikenal sebagai Java. Pada tahun 1994, team proyek Java mengubah fokus mereka ke web, yang mana berubah menjadi sesuatu yang menjanjikan setelah interactive TV gagal. Pada tahun berikutnya, Netscape menyetujui pemakaian Java pada internet browser mereka, Navigator. Sampai titik ini, Java menjadi bahasa masa depan dan beberapa perusahaan mengumumkan aplikasi harus ditulis dalam Java. Java mempunyai tujuan yang besar dan merupakan bahasa yang baik menurut buku text, pada kenyataanya “bahasa tersebut tidak”. Dia memiliki masalah yang serius dalam optimasi, dengan arti program yang ditulis dengannya berjalan dengan lambat. Dan Sun telah membuat cacat penerimaan terhadap Java dengan pertikaian politis dengan Microsoft. Tetapi Java telah dinyatakan sebagai bahasa untuk instruksi masa depan dan benar-benar menerapkan object-oriented dan teknik tingkat tinggi seperti kode yang portable dan garbage collection. Visual Basic sering diajari sebagai bahasa pemrograman dasar yang mengacu pada bahasa BASIC yang dikembangkan pada tahun 1964 oleh John Kemeny dan Thomas Kurtz. BASIC adalah bahasa yang sangat terbatas dan dirancang untuk orang yang bukan computer science. Perintah-perintah dijalankan secara berurutan, tetapi kendali program dapat berubah berdasarkan IF..THEN, dan GOSUB yang mana menjalankan suatu blok kode dan kembali ketitik semula didalam alur program. Microsoft telah mengembangkan BASIC ke dalam produk Visual Basic (VB). Jantung dari VB adalah form, atau suatu window kosos dimana anda dapat drag dan drop komponen seperti menu, gambarm dan slider bars. Item-item ini dikenal sebagai “widgets.” Widget memiliki properti (seperti warna) dan events (seperti klik dan double klik) dan menjadi pusat dari pengembangan antarmuka dengan pemakai diberbagai bahasa program dewasa ini. VB merupakan program yang banyak digunakan untuk membuat interface sederhana ke produk Microsoft lainnya seperti Excel dan Access tanpa membaca banyak kode, dengannya dapat dimungkinkan untuk dibuat aplikasi yang lengkap. Perl telah sering digambarkan sebagai “duct tape of the Internet,” karena sering digunakan sebagai engine untuk interface web atau pada script untuk memodifikasi file konfigurasi. Dia memiliki fungsi text matching yang sangat baik sehingga membuatnya menjadi hal yang ideal untuk pekerjaan tersebut. Perl dikembangkan oleh Larry Wall pada 1987 karena fasilitas pada sed dan awk pada Unix (digunakan untuk manipulasi text) tidak mencukupi kebutuhannya. Tergantung kepada siapa anda bertanya, Perl adalah singkatan dari Practical Extraction and Reporting Language atau Pathologically Eclectic Rubbish Lister. Bahasa pemrograman telah berkembangan dari masa kemasa dan tetap dikembangkan dimasa depan. Mereka dimulai dari suatu daftar langkap pengkabelan agar komputer menjalankan tugas tertentu. Langkah-langkah ini berkembang menjadi software dan memiliki kemampuan yang lebih baik. Bahasa umum yang pertama menekankan pada kesederhanaan dan untuk satu tujuan saja, sedangkan bahasa dewasa ini terbagi atas bagaimana mereka diprogram, sehingga mereka dapat digunakan untuk semua tujuan. Dan mungkin bahasa yang akan datang lebih natural dengan penemuan pada quantum dan komputer-komputer biologis. Sumber : Indoprog ‘Algoritma & Pemrograman’ oleh Hendra, S.T.

Bahasa Pemrogaman

Bahasa pemrograman, atau sering diistilahkan juga dengan bahasa komputer, adalah teknik komando/instruksi standar untuk memerintah komputer. Bahasa pemrograman ini merupakan suatu himpunan dari aturan sintaks dan semantik yang dipakai untuk mendefinisikan program komputer. Bahasa ini memungkinkan seorang programmer dapat menentukan secara persis data mana yang akan diolah oleh komputer, bagaimana data ini akan disimpan/diteruskan, dan jenis langkah apa secara persis yang akan diambil dalam berbagai situasi.

Menurut tingkat kedekatannya dengan mesin komputer, bahasa pemrograman terdiri dari:

  1. Bahasa Mesin, yaitu memberikan perintah kepada komputer dengan memakai kode bahasa biner, contohnya 01100101100110
  2. Bahasa Tingkat Rendah, atau dikenal dengan istilah bahasa rakitan (bah.Inggris Assembly), yaitu memberikan perintah kepada komputer dengan memakai kode-kode singkat (kode mnemonic), contohnya MOV, SUB, CMP, JMP, JGE, JL, LOOP, dsb.
  3. Bahasa Tingkat Menengah, yaitu bahasa komputer yang memakai campuran instruksi dalam kata-kata bahasa manusia (lihat contoh Bahasa Tingkat Tinggi di bawah) dan instruksi yang bersifat simbolik, contohnya {, }, ?, <<, >>, &&, ||, dsb.
  4. Bahasa Tingkat Tinggi, yaitu bahasa komputer yang memakai instruksi berasal dari unsur kata-kata bahasa manusia, contohnya begin, end, if, for, while, and, or, dsb.

Sebagian besar bahasa pemrograman digolongkan sebagai Bahasa Tingkat Tinggi, hanya bahasa C yang digolongkan sebagai Bahasa Tingkat Menengah dan Assembly yang merupakan Bahasa Tingkat Rendah.

Sabtu, 23 April 2011

Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan

Kecerdasan Spiritual ( Spiritual Quotient )
etelah beberapa lama “Kecerdasan Intelektual “ yang lebih dikenal
dengan IQ menjadi peranan penting, muncul “Kecerdasan Emosional”
( EQ ) yang diperkenalkan oleh Daniel Goleman. Orang mulai menyadari
bahwa kesuksesan dapat dicapai bila ada keseimbangan antara
“Kecerdasan Intelektual” dan “Kecerdasan Emosional” .
Kemudian Psikolog Danah Zohar dan suaminya Ian Marshall memunculkan
Q yang ketiga yaitu SQ yang merupakan landasan untuk memfungsikan IQ dan
EQ secara efektif. Sependapat dengan mereka, SQ lebih tepat disebut
“Kecerdasan Spiritual” karena quotient adalah angka dari hasil pembagian.
Buku mereka yang berjudul “SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence”
memuat bahwa Kecerdasan Spiritual tidak bisa dihitung karena
pertanyaan yang diberikan semata-mata merupakan latihan perenungan
(hal 243).
Menurut mereka, kita hidup dalam budaya yang “bodoh secara spiritual”.
Maksudnya, kita telah kehilangan pemahaman terhadap nilai-nilai mendasar.
Kehidupan yang “ bodoh secara spiritual” ini ditandai dengan materialisme,
egoisme, kehilangan makna dan komitmen (hal 14). Bahkan dikatakan,
kekeringan spiritual terjadi sebagai produk dari IQ manusia yang tinggi
(hal 20). Oleh karena itu, penting sekali kita meningkatkan SQ.
Apakah SQ itu ? Danah dan Ian dalam bukunya edisi Indonesia “SQ :
Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berpikir Integralistik dan Holistik
untuk Memaknai Kehidupan” tidak memberikan batasan secara definitif. Mereka
S
Jurnal Pendidikan BPK PENABUR 135
R E S E N S I B U K U
menekankan pada aspek nilai dan makna sebagai unsur penting dari
“Kecerdasan Spiritual”.
SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna
dan nilai menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna
yang lebih luas dan kaya; menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang
lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.
Selanjutnya berlandasan pada beberapa ahli psikologi ( Sigmund Freud,
C.G. Jung ), neurolog ( Persinger, Ramachandran ) dan filosof ( Daniel Dennett,
Rene Descartes ), Danah dan Ian membahas lebih dalam mengenai “Kecerdasan
Spiritual”. “Kecerdasan Spiritual” disimbolkan sebagai Teratai Diri yang
menggabungkan tiga kecerdasan dasar manusia ( rasional, emosional, dan
spiritual ), tiga pemikiran ( seri, asosiatif, dan penyatu ), tiga jalan dasar
pengetahuan ( primer, sekunder, dan tersier ) dan tiga tingkatan diri ( pusattranspersonal,
tengah-asosiatif & interpersonal, dan pinggiran-ego personal
). Dengan demikian SQ berkaitan dengan unsur pusat dari bagian diri
manusia yang paling dalam menjadi pemersatu seluruh bagian diri manusia
lain.
SQ adalah kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang
berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar. SQ menjadikan
manusia yang benar-benar utuh secara intelektual, emosional dan spiritual.
SQ adalah kecerdasan jiwa. Ia adalah kecerdasan yang dapat membantu
manusia menyembuhkan dan membangun diri manusia secara utuh.
Namun, pada zaman sekarang ini terjadi krisis spiritual karena kebutuhan
makna tidak terpenuhi sehingga hidup manusia terasa dangkal dan hampa.
(hal 16) Ada tiga sebab yang membuat seseorang dapat terhambat secara
spiritual, yaitu tidak mengembangkan beberapa bagian dari dirinya sendiri
sama sekali, telah mengembangkan beberapa bagian, namun tidak
proporsional, dan bertentangannya / buruknya hubungan antara bagian-bagian.
Apa usaha kita untuk mengatasinya ? Danah dan Ian memberikan “Enam
Jalan Menuju Kecerdasan Spiritual yang Lebih Tinggi” dan “Tujuh Langkah
Praktis Mendapatkan SQ Lebih Baik”. Enam Jalan tersebut yaitu jalan tugas,
jalan pengasuhan, jalan pengetahuan, jalan perubahan pribadi, jalan
persaudaraan, jalan kepemimpinan yang penuh pengabdian.(hal 197)
Sedangkan Tujuh Langkah Menuju Kecerdasan Spiritual Lebih Tinggi adalah
(1) menyadari di mana saya sekarang, (2) merasakan dengan kuat bahwa
saya ingin berubah, (3) merenungkan apakah pusat saya sendiri dan apakah
motivasi saya yang paling dalam, (4) menemukan dan mengatasi rintangan,
(5) menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju, (6) menetapkan
hati saya pada sebuah jalan, (7) tetap menyadari bahwa ada banyak jalan.
136 Jurnal Pendidikan BPK PENABUR
R E S E N S I B U K U
Bila SQ seseorang telah berkembang dengan baik, maka tanda-tanda yang
akan terlihat pada diri seseorang adalah (1) kemampuan bersikap fleksibel,
(2) tingkat kesadaran diri tinggi, (3) kemampuan untuk menghadapi dan
memanfaatkan penderitaan, (4) kemampuan untuk menghadapi dan melampaui
rasa sakit, (5) kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai, (6)
keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu, (7) kecenderungan
untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan holistik), (8)
kecenderungan nyata untuk bertanya “Mengapa?” atau “Bagaimana jika?” untuk
mencari jawaban yang mendasar, (9) memiliki kemudahan untuk bekerja
melawan konvensi.
Secara garis besar, saya sependapat dengan Danah dan Ian bahwa manusia
harus meningkatkan “Kecerdasan Spiritual” untuk mengatasi krisis spiritual
yang melanda dunia, khususnya di dunia barat. Namun, bagaimana hubungan
antara SQ dan Agama ? Karena sebagai orang beragama kita selalu berpegang
pada Firman Allah.
Danah dan Ian berpendapat bahwa SQ tidak mesti berhubungan dengan
agama. Banyak orang Humanis dan Ateis yang memiliki SQ sangat tinggi.
(hal 8)
Agama formal hanya seperangkat aturan dan kepercayaan yang dibebankan
secara eksternal. Sedangkan SQ adalah kemampuan internal bawaan otak
dan jiwa manusia, yang sumber terdalamnya adalah inti alam semesta sendiri.
Dikatakan pula, SQ tidak bergantung pada budaya maupun nilai,
tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri.
SQ membuat agama menjadi mungkin ( bahkan mungkin perlu ), tetapi SQ
tidak bergantung pada agama. (hal 9)
Muncul pertanyaan bagi saya, kalau SQ sebagai kecerdasan jiwa tidak
bergantung pada agama, di mana agama diletakkan ? Karena bagi orang
Kristen, agama sebagai iman kepada Allah merupakan basis dari semua
kehidupan.
SQ memang dapat membantu orang untuk menguatkan kehidupan
keagamaannya, tapi tanpa dilandasi agama maka orang tersebut menjadi
“humanis”. Di sinilah letak perbedaan antara SQ dan ajaran agama Kristen.
SQ memandang manusia sebagai manusia psikologis sedangkan ajaran agama
Kristen menempatkan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang segambar
dengan Allah.
Dalam agama Kristen ada yang disebut Spiritus. Seperti juga SQ yang
memerlukan latihan, maka organ spiritus ( kebajikan teologal, imanpengharapan-
kasih, karunia roh kudus ) perlu dilatih supaya berkembang. Orang
yang spiritusnya hidup, pada suatu hari akan menyadari karya Allah dalam
Jurnal Pendidikan BPK PENABUR 137
R E S E N S I B U K U
dirinya. Orang itu akan mengalami “Terang Allah, cinta, dan damai-Nya”.
Mungkinkah ini yang dimaksud Danah dan Ian dengan Kecerdasan Spiritual
seperti cerita nelayan Meksiko dan pengusaha Amerika ?
Diceritakan bahwa seorang pengusaha Amerika mencemooh gaya hidup
seorang nelayan Meksiko. “Saya tidur larut, memancing sebentar, bermain
dengan anak-anak saya, tidur siang bersama istri saya, Maria, jalan-jalan ke
desa setiap malam untuk menyesap anggur dan bermain gitar bersama kawankawan
saya. Saya mempunyai kehidupan yang lengkap dan sibuk, Senor,” kata
nelayan Meksiko. Pengusaha Amerika itu mengatakan bahwa Ia seorang MBA
lulusan Harvard dapat menolong nelayan tersebut menjadi pengusaha besar
dalam waktu 15 s.d. 20 tahun dan pindah ke Los Angeles atau NewYork. Tapi
sang nelayan menanyakan apa yang dilakukan setelah itu. Sang pengusaha
menjawab bahwa ia dapat menjual perusahaannya, menjadi kaya dan pindah
ke desa untuk melakukan seperti apa yang dilakukan nelayan itu sekarang.
(hal 250)
Danah dan Ian melihat bahwa sang nelayan merupakan contoh seseorang
yang cerdas secara spiritual. Ia memiliki pemahaman yang cerdas mengenai
tujuan hidupnya sendiri yang dianggapnya penting, ia merasa damai. Sang
nelayan terlihat tidak berambisi untuk mendapatkan sesuatu lebih banyak. Ia
merasa sudah cukup dengan apa yang didapatkan setiap harinya. Apakah dapat
dikatakan bahwa sang nelayan bersikap “pasrah kepada Tuhan” seperti yang
tertulis dalam Matius 6:34 yaitu “Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari
besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari
cukuplah untuk sehari” ?
Danah dan Ian memang tidak berlandaskan agama dalam membahas
“kecerdasan spiritual”. Dengan latar belakang pendidikan mereka, Danah
mempunyai pendidikan di bidang fisika, filsafat, psikologi dan teologi dan Ian
adalah seorang psikiater yang meraih gelar di bidang psikologi dan filsafat,
mereka menempatkan agama sebagai salah satu cara memperoleh kecerdasan
spiritual yang tinggi. Mereka mengajak kita untuk memahami pentingnya
kecerdasan spiritual sebagai landasan IQ dan EQ, mengingat krisis makna
yang sedang melanda dunia. Mereka berpendapat bahwa kecerdasan spiritual
berkaitan dengan makna hidup, nilai-nilai dan keutuhan diri. Orang dapat
menemukan makna hidup dari bekerja, belajar, berkarya bahkan saat
menghadapi masalah atau penderitaan.
Mungkin terjadi, seorang ateis memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi
karena seperti IQ dan EQ, maka SQ pun merupakan potensi manusiawi. Oleh
karena itu, lebih baik ketiga potensi tersebut dilandasi oleh agama. Mereka
masih perlu melengkapi kajian mengenai kecerdasan spiritual dalam bentuk
138 Jurnal Pendidikan BPK PENABUR
R E S E N S I B U K U
penerapannya dalam hidup sehari-hari. Selain itu sejauh mana keberadaan
SQ yang ada dalam diri manusia masih perlu dikaji mengingat mereka berasal
dari kultur yang berbeda dengan kita.
Daftar Pustaka :
Zohar, Danah dan Ian Marshall. SQ : Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam
Berpikir Integralistik dan Holistik Untuk Memaknai Kehidupan. Bandung : Mizan.
2001.
Subandi, MA., Drs. Seminar Setengah Hari : Menyoal Kecerdasan Spiritual. Yogyakarta,
6 Juni 2001
Djaenudin, Djudjun, S.Th. Artikel : Spiritual Quoetient (Kecerdasan Spiritual). Jakarta
: 22 Oktober, 2001.
Lembaga Alkitab Indonesia. Alkitab. Bogor : Lembaga Alkitab Indonesia. 1980.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More